Jumat, 07 Agustus 2015

PERBEDAAN ANTARA SHALAT DAN SEMBAHYANG :




Sekarang di kesempatan kali ini, saya ingin berbagi pengalaman tentang hal tersebut, lebih rinci dan jelas lagi. Dengan Tema. PERBEDAAN ANTARA SHALAT DAN SEMBAHYANG. Semoga pengalaman saya ini, bisa bermanfa’at berkah bagi sekalian sahabat-sahabat saya, sebagai tambahan pemahaman di dalam pengalaman Spiritual Hakikat Hidup.
PENGERTIAN SHALAT :
Shalat secara bahasa berarti berdo’a. dengan kata lain, shalat secara bahasa mempunyai arti mengagungkan. Sedangkan pengertian shalat menurut syara’ terlalu banyak, ada yang mengartikan, shalat itu adalah ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan tertentu, yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Ada yang mengartikan, shalat itu adalah bacaan-bacaan al-Qur’an, takbir, tasbih, dan do’a, ada yang mengartikan kalau shalat itu merupakan rukun Islam kedua setelah syahadat. ADA YANG MENGARTIKAN BAHWA SHALAT ITU ADALAH MENCEGAH PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR, ADA PULA YANG MENGARTIKAN SEBAGAI : DOA, TIDAK KIKIR, SELALU BERSYUKUR, MENGHUBUNGKAN (SILATURAHIM ), AGAMA, AMANAH, PERKATAAN YANG BERGUNA, MENJAGA KEMALUAN, SHOLAWAT, BERBUAT BAIK DAN SEBAGAINYA. ISTILAH SHALAT DI DALAM AL-QUR’AN SUNGGUH TERAMAT LUAS MAKNA DAN PENGERTIANNYA, KARENA “ KATA SHALAT “ MEMPUNYAI KOSA KATA YANG SANGAT LUAS MAKNANYA JIKA DITINJAU DARI SEGI BAHASA ARAB MELAUI NAHWU SOROF, BALAGHO, BAYAN, BADI’, MA’ANI DAN LAIN SEBAGAINYA. dan masih banyak lagi Arti-arti DAN MAKNA-MAKNA lainya yang memusingkan kepaLa dan membingungkan otak. Seperti banyaknya hadist yang harus di percayai dan di benarkan, karena si empunya hadist adalah orang-orang yang diyakini adalah pilihan Tuhan. Contoh hadis dari satu tokoh dibawah ini:
“(Hasbi Asy-Syidiqi, 59) mengartikan bahwa shalat itu merupakan berhadapannya hati (jiwa) kepada Allah, dengan cara mendatangkan takut kepada-Nya serta menumbuhkan di dalam jiwa kebesarannya dan kesempurnaan kekuasaan-Nya” atau “mendahirkan hajat dan keperluan kepada Allah yang kita sembah dengan perkataan dan pekerjaan atau dengan kedua – duanya”
Disisi lain (Hasbi Asy-Syidiqi) mengartikan lain lagi, bahwa shalat yaitu beberapa ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir, disudahi dengan salam, yang dengannya kita beribadah kepada Allah, menurut syarat-syarat yang telah ditentukan. POKOKNYA…. pusing, karena saking banyaknya hadist dan riwayat yang mengartikan tentang Shalat yang harus kita akui kebenaranya walaupun semuanya berbeda-beda dalam mengartikannya.
Padahal INTInya sangat sederhana alias tidak sulit, tidak rumit, tidak kusutt tidak repot, tidak muter-muter, tidak memusingkan lagi. Karena makna dan arti Shalat itu. Adalah… INGAT ALLAH atau MENGINGAT ALLAH. Tidak muter-muter memusingkan kepala kan…?

PENGERTIAN SEMBAHYANG  :
Sembahyang adalah suatu bentuk kegiatan keagamaan yang menghendaki hubungan dengan Tuhan, dewa, roh atau kekuatan gaib yang dipuja, dengan melakukan kegiatan yang disengaja. Sembahyang dapat dilakukan secara bersama-sama atau perseorangan. Dalam beberapa tradisi agama, sembahyang dapat melibatkan nyanyian berupa hymne, tarian, pembacaan doa atau puji-pujian dan naskah agama dengan dinyanyikan atau disenandungkan, pernyata’an formal kredo, atau ucapan spontan dari orang yang berdoa.
Seringkali sembahyang dibedakan dengan doa, doa lebih bersifat spontan dan personal, serta umumnya tidak bersifat ritualistik. Meskipun demikian pada hakikatnya aktivitas ini sama, yakni sebuah bentuk komunikasi antara manusia dengan Tuhannya. Kebanyakan agama menggunakan salah satu cara dalam melaksanakan ritual persembahyangannya. Beberapa agama meritualkan kegiatan ini dengan menerapkan berbagai aturan seperti waktu, tata cara, dan urutan sembahyang. Ada juga yang menerapkan aturan ketat mengenai apa saja yang harus disediakan, misalnya benda persembahan atau sesaji, pakaian dan tempat serta kapan ritual itu harus dilakukan. Sementara beberapa pandangan lainnya memandang berdoa atau bersembahyang dapat dilakukan kapan saja, oleh siapa saja.
JELASNYA TENTANG PERBEDA’AN ANATAR SHALAT DAN
SEMBAHYANG ADALAH : Kalau SHALAT itu, INGAT ALLAH atau MENGINGAT ALLAH. Sedangkan SEMBAHYANG itu, salah satu aturannya atau caranya INGAT ALLAH atau MENGINGAT ALLAH.
KALAU SHALAT tidak pakai waktu dan aturan, karena di lakukan seiring keluar masuknya napas selama 24 jam. SEDANGKAN SEMBAYANG harus tepat waktu dan aturan yang sudah di tentukan oleh masing-masing agama.
KALAU SHALAT bisa di lakukan dalam keada’an apapun dan dimanapun. SEDANGKAN SEMBAYANG harus di lakukan di tempat-tempat tertentu dan dengan waktu-waktu tertentu. KALAU SHALAT lebih mengutamakan suara hati, bahasa hati dan tidak mengharuskan raga. SEDANGKAN SEMBAYANG lebih mengutamakan suara lisan dan gerakan raga.
SEMBAHYANG ADALAH GERAKAN TAPI SHALAT ADALAH PERILAKU ….
Saya Ulangi sekali lagi; Kalau SHALAT itu, INGAT ALLAH atau MENGINGAT ALLAH. Sedangkan SEMBAHYANG itu, salah satu aturannya atau caranya INGAT ALLAH atau MENGINGAT ALLAH. He he he . . . Mantap
LANJUT PUNYA CERITA: Sekarang saya ingin mengungkap INTISARI dari Keduanya itu; HAMPIR SEMUA UMAT MUSLIM MENGETAHUI BAHWA SHALAT ITU MENCEGAH PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR                        (INNASSHOLTA TANHA ANIL FAHSYAI WAL MUNKAR )
TAPI PADA KENYATAANNYA HAMPIR DISETIAP LORONG YANG saya JUMPAI, JUSTRU SEBALIKNYA, YAITU : YANG SHALAT MALAH MENGAJAK MANUSIA UNTUK BERBUAT KEJI DAN MUNGKAR…TERUTAMA KAUM HAWA ( KHUSUSNYA IBU IBU ) YANG SAMPAI SAAT INI MASIH SAJA MEMANFAATKAN MEDIA NGERUMPI DAN GHOSIB UNTUK MENJADI AJANG PERTEMUAN YANG HANGAT DAN SALING JOR JORAN UNTUK MEMBUKA AIB ORANG LAIN DENGAN PENUH KEAKRABAN. KELOMPOK WANITA YANG SATU MENG OLOK OLOK SEKELOMPOK WANITA YANG LAIN…DEMIKIAN PULA LELAKI YANG SATU MENGOLOK OLOK KELOMPOK LAKI LAKI YANG LAIN…DAN SETERUSNYA . DAN BAHKAN YANG LEBIH PARAH LAGI. SEKELOMPOK LAKI-LAKI YANG SATU MENGAJAK BEBERAPA KELOMPOK LAKI LAKI YANG LAIN UNTUK MENFITNAH. MENCEMOH. MENGHINA BAHKAN MEMBUNUH, DAN MEMBINASAKAN ORANG2 YANG TAK BERDOSA LAINNYA…
BEGITULAH PEMAHAMAN SHALAT YANG AYAT DAN DALILNYA ADALAH MENCEGAH PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR ITU DIPERKOSA OLEH PARA BADUT – BADUT YANG MERASA SHALAT 5 WAKTUNYA ADALAH TIKET EXCUTIV UNTUK MASUK SURGA, PADAHAL PERBUATAN DIA SANGAT TIDAK SESUAI ( BERTENTANGAN ) DENGAN KEMAUAN ALLAH YANG TERCANTUM DI ALQURAN BAHWA YANG DISEBUT SHALAT ITU ADALAH MENCEGAH PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR.
029:045 “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih utama. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”
049:011 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri”
[1410] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman
[1411] dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
049:012 “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang”
YANG SAYA HERANKAN…. KENAPA TOKOH TOKOH AGAMA TIDAK PERNAH BERUSAHA UNTUK MENCARI DEVINISI SHALAT YANG SEBENARNYA MELALUI PEDOMAN HIDUP ( AL-QURAN ) YANG TELAH ALLAH WAHYUKAN KEPADA PARA NABI. MENGAPA SHALAT 5 WAKTU YANG JELAS-JELAS MASIH MENGGUNJING, BERPRASANGKA BURUK, DAN BAHKAN MEMBUNUH SECARA KEJI DAN BIADAB ITU MASIH DIANGGAB SHALAT YANG KATANYA DILAKSANAKAN OLEH PARA NABI ITU. BUKANKAH MASIH ADA PENGERTIAN DAN MAKSUD YANG LAIN TENTANG SHALAT ITU. DISAMPING HANYA SEKEDAR TUNGKAT-TUNGKIT. JENGKANG-JENGKING TETAPI TERNYATA MASIH KEJI DAN MUNGKAR ITU ??
JANGAN- JANGAN PARA NABI DALAM MENGAJARKAN SHALAT ITU TIDAK SEPERTI PENGAJARAN NENEK MOYANG KITA YANG TIDAK DAPAT PETUNJUK DAN TERSERET KE NERAKA OLEH IBLIS SYAITAN YANG TERKUTUK ITU…??! ATAU BARANG KALI SEMUA INI TERJADI OLEH AKIBAT UMAT YANG MINIM PENGETAHUAN DAN HANYA MENGIKUTI KATANYA PARA PENDAHULU TANPA MENGETAHUI SUMBER YANG ASLINYA…??! He he he . . . Mantap Burr…!!!
017:036 “Janganlah sekali-kali kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hatimu, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”
ATAU BARANG KALI TIDAK HANYA MENGIKUTI KATANYA SAJA. YANG MENJADIKAN KEBANYAKAN DARI KITA TERSESAT DAN TULI TERHADAP PENGERTIAN SHALAT YANG SEBENARNYA, JANGAN – JANGAN BANYAKNYA BUKU IMPORT DAN OKNUM YANG MEMUTAR-MUTAR LIDAHNYA ITU, JUGA MENJADI ANDIL KESALAH PAHAMAN SAUDARA-SAUDARI KITA SECARA TURUN TEMURUN SAMPAI KINI HINGGA YANG AKAN DATANG …? Waduh… payah tur parah waaa…
TENTU AKAL DAN LOGIKA YANG BERDASARKAN AL-QUR’AN LAH YANG DAPAT MENYELAMATKAN UMAT ISLAM YANG SA’AT INI SEDANG DIRUDUNG PERSOALAN BESAR DI TENGAH MASYARAKAT YANG KEBANYAKAN MELAKSANAKAN SHALAT 5 WAKTU NAMUN TIDAK DAPAT MENCEGAH KEJI DAN MUNGKAR ITU. CUMA YANG JADI MASALAH… MEREKA MALU DAN GENGSI TIDAK UNTUK MEMBUKAN AL-QUR’AN DAN MEMPELAJARINYA DARI AWAL LAGI…? AL-QUR’AN DAN AKAL YANG DIBERI RAHMATLAH YANG MAMPU MENYELAMATKAN ANAK CUCU ADAM YANG TELAH LAMA TERSESAT DARI KATANYA DAN MEMBACA BUKU-BUKU YANG DIKARANG OLEH MANUSIA MANUSIA YANG TIDAK BERPEMBUKTIAN DAN YANG TIDAK PULA MENDAPAT PETUNJUK ( HIDAYAH ) LANTARAN TIDAK PERNAH LAKU KETUHANAN SENDIRI… TAUNYA TERUS DI BUKUKAN LALU DI SYI’ARKAN….
MAKSUD DAN TUJUAN ALLAH MENJADIKAN DAN MENURUNKAN AL-QUR’AN DENGAN BERBAHASA ARAB. ITU HANYA DAPAT DIBUKTIKAN OLEH SESEORANG, KETIKA ORANG ITU MENGALAMI DISTORSI TERHADAP SEBUAH ISTILAH YANG BERTENTANGAN DENGAN NALURI KEBANYAKAN ORANG PADA SAAT TERTENTU DAN DI TEMPAT-TEMPAT TERTENTU… KARENA ITU ALLAH MENYERUKAN AGAR AL-QUR’AN YANG BERBAHASA ARAB ITU. TIDAK HANYA SEKEDAR DIBACA SAJA, NAMUN LEBIH TAJAM LAGI HENDAKNYA DAPAT DIPAHAMI DAN DAPAT DILAKSANAKAN HUKUM-HUKUMNYA ..
PERSOALAN PEMAHAMAN INILAH YANG DAPAT MENYEBABKAN PERBEDAAN SUDUT PANDANG DI KALANGAN AKAR RUMPUT YANG MEMBUAHKAN PERSELISIHAN ANTAR KELOMPOK TURUN TEMURUN HINGGA SEKARANG INI. PERBEDAAN ANTARA SHALAT DAN SEMBAHYANG SAJA SAMPAI SAAT INI MEMPUNYAI TINGKAT KEBUNTUAN YANG SULIT UNTUK DIMENGERTI. ADA YANG MENGATAKAN SHALAT DAN SEMBAHYANG ITU SAMA, ADA YANG MENGATAKAN SHALAT ITU BAHASA ARAB ( KHUSUS UNTUK ORANG ISLAM ), SEDANGKAN SEMBAHYANG ADALAH SHALATNYA ORANG DILUAR ISLAM, BAHKAN ADALAGI YANG MENGATAKAN BAHWA SHALAT ITU ADALAH SEMUA PERBUATAN BAIK.
BAGI UMAT ISLAM SEMBAHYANG ITU WAJIB HUKUMNYA AGAR MANUSIA TETAP INGAT UNTUK TIDAK MELAKUKAN PERBUATAN KEJI DAN MUNGKAR, AGAR TETAP INGAT UNTUK TIDAK PELIT, AGAR TETAP INGAT UNTUK TIDAK MENGGUNJING, AGAR TETAP INGAT UNTUK SELALU BERBUAT BAIK DAN BERMANFAAT BAGI MANUSIA. SEMBAHYANG BAGI UMAT ISLAM MERUPAKAN REMAINING SISTEM YANG SELALU BERBUNYI DALAM SEHARI 5 KALI,
SEMBAHYANG ADALAH SHALAT YANG DIATUR WAKTUNYA SEMBAHYANG ADALAH ALAT MENUJU SHALAT SEMBAHYANG ADALAH CARA MENGINGAT ALLAH DI WAKTU WAKTU TERTENTU, DI TEMPAT TEMPAT TERTENTU, DAN MEMPUNYAI SYARAT SYARAT TERTENTU,
TAPI SHALAT ADALAH MELAKSANKAN PERINTAH YANG DISUKAI DAN DIRIDHAI ALLAH DISETIAP SAAT TANPA MENGENAL WAKTU DAN TEMPAT ( TERMASUK MELAKSANAKAN SEMBAHYANG ITU SENDIRI ), MAKA SEMBAHYANG PUN BISA DIARTIKAN SEBAGAI SHALAT JIKA DI JALANKAN DENGAN KHUSU’ KARENA SEMBAHYANG SEBAGIAN KECIL DARI PADA SHALAT, AKAN TETAPI SHALAT BELUM TENTU SEMBAHYANG…BISA BERSEDEKAH, BISA BERBUAT BAIK, BISA SILATURAHIM, BISA MENCARI NAFKAH, BISA BERDZIKIR, BISA BERSAMADI ATAU BERMEDITA DAN LAIN SEBAGAINYA.
WAHAI SAHABAT DAN SAUDARA-SAUDARI MARI KITA PAHAMI SHALAT KITA….DAN MARI KITA PAHAMI SEMBAHYANG KITA….JANGANLAH SEMBAHYANG KITA DIANGGAB OLEH ALLAH SEBAGAI SIULAN DAN TEPUK TANGAN BELAKA. YANG MENYEBABKAN AZAB BESERTA KITA…. YAITU SEMBAHYANG YANG TIDAK TAHU APA APA….SEMBAHYANG YANG HANYA IKUT-IKUTAN KATANYA…
MASIH BANYAK ORANG SEMBAHYANG YANG MELAMUN KEMANA -MANA….MEREKA MENGATAKAN MENGHADAP ALLAH YANG SELALU DIUCAPKAN DALAM DOA IFTITAH, YAITU : IINI WAJJAHTU WAJHIYA LILLADHI FATOROS SAMAWATI WAL ARDHO ) SESUNGGUHNYA KU HADAPKAN WAJAHKU KEPADA TUHAN PENCIPTA LANGIT DAN BUMI…TAPI KENYATAANNYA DI HATI KITA MASIH MENGHADAP SESUATU YANG BUKAN ALLAH, PADAHAL MEREKA MENGUCAPKAN HUSOLLI SEBELUM TAKBIR… YAITU HUSOLLI FARDHOL MAGHRIBI SALASA ROKAATIM MUSTAKBILAL KIBLATI….HUSALLI YANG DIUCAPKAN ADALAH MUSTAKBILAL KIBLATI TETAPI DISAAT YANG SAMA KITA SEDANG MENGHADAP KA’BAH….KENAPA TIDAK DIGANTI DENGAN MUSTAKBILAL KA’BAITI…
AWALNYA SAYAPUN INGIN MENDAPAT PENJELASAN YANG SEBENAR BENARNYA MELALUI AL-QUR’AN, APA BEDANYA KIBLAT DENGAN KA’BAH…..? LALU APA PULA BEDANYA ALLAH, KIBLAT DAN KA’BAH…? PADAHAL YANG KITA UCAPKAN DI DOA IFTITAH ADALAH ALLAH… YANG KITA UCAPKAN DI AYAT INI, BAHWA KITA MENGHADAPKAN DIRI KITA KEPADA TUHAN PENCIPTA LANGIT DAN BUMI DENGAN TIDAK MEMPERSEKUTUKAN NYA…. TAPI NIAT UCAPAN KITA DI AWAL SEBELUM TAKBIR MENGATAKAN MENGHADAPKAN DIRI KITA KE KIBLAT….SEMENTARA KENYATAAN ASLINYA KITA MENGHADAP KE BARAT ATAU KE ARAH KA’BAH…. SEMENTARA LAGI ALLAH BERFIRMAN BAHWA APA YANG KAMU SEMBAH SELAIN ALLAH ITU ADALAH BERHALA DAN MEMBUAT KAMU DUSTA…
LALU PERTANYAANNYA ADALAH : APA BEDANYA ALLAH DENGAN KIBLAT… APA BEDANYA KIBLAT DENGAN KA’BAH…DAN APA BEDANYA ALLAH, KIBLAT, KA’BAH DAN BERHALA….?
INILAH YANG MENJADI PERTANYAAN SAYA SELAMA LAKU SPIRITUAL…?
DAN ALHAMDULILLAH SAYA BERHASIL MENDAPAT JAWABAN DARI WAHYU PANCA GA’IB (KUNCI), BAHWA SEMBAHYANG ITU HARUS BERDASARKAN WAHYU….BUKAN BERDASARKAN KITAB KITAB SELAIN WAHYU…
TERNYATA SEMBAHYANG ITU HARUS DIBIMBING WAHYU….OLEH KARENA ITU SAYA SELALU BERUSAHA BERSAMA KUNCI DI SETIAP SEMBAHYANG SAYA. AGAR SELALU BENAR-BENAR NYAMBUNG DENGAN ALLAH DAN MENGURANGI BAYANG BAYANG KESYIRIKAN AGAR SUPAYA DAPAT MERASAKAN KHUSYU’ NYA TAKHIATAL MASJID….SUBUH…DHUHUR…ASHAR…MAGRIB DAN ISYA’ TANPA MEMPERSEKUTUKAN ALLAH….LHA ILA HA ILLALLAH…..
ASSHADU ALLA ILA HAILLALLAH, WA ASSHADU ANNA MUHAMMADAR ROSULULLAH… JIKA TIDAK. SAYA HANYA AKAN SHALAT SAJA. TIDAK AKAN SEMBAHYANG. MAKA… JANGAN HERAN JIKA BERSAMA DENGAN SAYA. MELIHAT SAYA TIDAK SEMBAHYANG. KARENA SAYA HANYA MAU SEMBAHYANG KETIKA BERSAMA KUNCI. JIKA TIDAK, SAYA MERASA RUGI DALAM SEMBAHYANG. UNTUK APA SAYA JENGANG JENGKING SEMBAYANG, JIKA TIDAK BISA NYAMBUNG DENGAN TUHAN…. BAGI SAYA, SEMBAHYANG. HUKUMNYA HARUS DAN WAJIB NYAMBUNG/BERTEMU DENGAN TUHAN.
SAHABAT DAN SAUDARA-SAUDARI SEKALIAN. APAPUN YANG SAYA TULIS/EDARKAN INI. MASIH BERUPA KONSEP…. JADI. JANGAN LANGSUNG DI CERNA. IBARATNYA MAKANAN, JANGAN LANGSUNG DI MAKAN/DI TELAN… HARAP DAN MOHON DIKOREKSI DAN DI RENUNGKAN SEBAIK MUNGKIN. AGAR TAMBAH MENJADI YANG TERBAIK BUAT KITA SEMUANYA… AMIIN… HE HE HE . . . MANTAP BERKAH SELALU SAUDARA-SAUDARIKU SEMUANYA TANPA TERKECUALI… SEMOGA POSTINGAN SAYA INI. BISA LEBIH MENGENA ke RASA dan BERMANFAAT BAGI siapapun yang Membacanya…
MENYEMBAH ALLAH, ITU SUATU KESALAHAN :
“…………………… maka mengabdilah kepada-Ku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. (QS : Thaahaa,14)
Sudah menjadi Tradisi bagi setiap Umat Muslim se Dunia bahwa setiap melaksanakan Sembahyang/Sholat, maka yang terbenak dalam pikirannya adalah Penyembahan/Menyembah. Entah darimana Bahasa itu berasal, tetapi yang jelas hampir semua dari seluruh Umat Muslim meyakini bahwa kita harus menyembah kepada Allah. Sadar atau tidak sadar, jika tertanam pada diri untuk Meyembah Allah dalam Amal Ibadah maka yang terjadi adalah pengkultusan suatu “sosok”/”personal”. Padahal telah diketahui dan diyakini oleh Umat Muslim bahwa Allah adalah “Laisa Kamitslihi Syai’un”/Tidak bisa dimisalkan dengan sesuatu apapun… He he he . . . Mantap
Kata-kata “Menyembah/Penyembahan”, maka masih bisa dimisalkan dengan seseorang yang menyembah kepada sesuatu misalnya Patung, Pohon, Matahari, Api bla… bla… bla… dll, yang mana ada suatu “sosok” yang berada di luar atau di depan atau di atas atau dikanan atau dikiri dari diri Sang Penyembah. Lalu apa bedanya dengan mereka yang menyembah Patung, Pohon, Matahari, Api bla…bla…dllnya…????. Melihat ataupun tidak melihat akan yang di SEMBAH, tetap saja bertentangan dengan TAUHID yang sebenarnya. Karena TAUHID itu, bukan PENYEMBAHAN melainkan SADAR akan KESADARAN ke ESA an Allah Swt… He he he . . . Mantap
KESADARAN akan ke ESA an Allah Swt MUTLAK tidak bisa di ganggu gugat, karena Allah Muhitum Fil ‘Aaalamiin/Allah Meliputi sekalian Alam. Tetapi jika dimaknai dengan MENYEMBAH, maka menunjukkan bahwa Allah itu adalah suatu “sosok” yang berada di suatu Tempat yang berada Nan jauh disana….., ada yang meyakini bahwa Allah bersemayam di Atas Arsy yang berada di atas langit ke tujuh, Salahkah jika dikatakan demikian… Benar dan Tidak salah. Tetapi yang salah adalah Penafsiran dari pada Ayat tsb. Apalagi Ayat tsb terdapat dalam Al-Qur’an, berarti itu sudah benar adanya, tetapi…jika salah menafsirkan maka salah pula lah Keyakinan yang ada. Bahasa al-Qur’an adalah Perkataan Allah/Suara Allah, tentunya tidak bisa di cerna dengan Akal pikir Manusia, karena Akal pikir Manusia itu terbatas dan juga Akal itu tercipta. Sesuatu yang tercipta itu adalah Baru dan tidak Kekal, apakah bisa sesuatu yang baru dan tidak kekal itu mengetahui Hakikat sebenarnya dari kata-kata/Firman/Suara Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an…???
Jika akal mencerna lalu menafsirkan hanya sebatas kata-kata yang menurut akal pikir semata, maka Nyata SALAH lah….penafsiran yang demikian. Sebab, Allah itu Laitsa Kamitslihi Syai’un, bagaimana mungkin bisa dikatakan berada di suatu tempat, sedangkan Allah tidak terikat oleh Ruang dan Waktu. Ruang dan Waktu menunjukkan Tempat, dan hanya Makhluk lah….yang berada dan terikat oleh Ruang dan Waktu. Sedangkan Allah….., Tidak bertempat tetapi yang memiliki dan menguasai setiap tempat serta Pengetahuan Allah meliputi setiap Ruang dan Waktu (Tempat).
Karenanya dalam pandangan TAUHID dan TASAWUF atau MA’RIFATULLAH, maka siapa yang menyembah Allah maka mereka berada dalam ke kufuran, Karena telah menyamakan Allah dengan “sosok” yang berada di suatu tempat… He he he . . . Mantap
Para Arifbillah(yang Mengenal akan Allah), menilik kata-kata “MENYEMBAH” itu bukanlah suatu “PENYEMBAHAN” melainkan “KESADARAN akan ke ESA an Allah Swt yang tidak bertempat tetapi memiliki dan menguasai setiap tempat serta Pengetahuan Allah meliputi setiap Ruang dan Waktu (Tempat)”.
Jadi……..mendirikan Sembahyang/Sholat adalah untuk mengenal akan ALLAH MAHA BESAR (ALLAHU AKBAR) yang akan menumbuhkan kesadaran bahwa BENAR lah….ALLAH itu ESA tiada sekutu bagi-Nya, Tidak bertempat tetapi memiliki dan menguasai setiap tempat serta Pengetahuan-Nya meliputi tiap-tiap sesuatu.



TENTANG PENTINGNYA MENGENAL DIRI DAN MENGENAL YANG MAHA SUCI HIDUP:

Saudara dan Para sekalian yang di Ridhai Allah Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu….
Cara atau laku Spiritual Yang Pertama kali harus Dipelajari oleh setiap manusia hidup itu, adalah cara dan laku spiritual mengenal diri dan mengenal Yang Maha Suci Hidup. Setelah kedua hal ini, berhasil di pelajari, baru mempelajari ilmu-ilmu spritual yang lainnya, dengan begitu, ilmu hitam, ilmu jahat, ilmu murtad sekalipun yang di pelajarinya, akan menjadi baik dan tepat serta bisa sesuai dengan Firman Yang Maha Suci Hidup. Jika terlebih dulu, diawali dengan car dan laku spiritual mengenal diri dan Yang Maha Suci Hidup.
Begitu juga dengan agama, yang paling awal di pelajari itu, adalah. Fitrah diciptanya makhluk itu, tujuan, adalah untuk mengenal diri dan Allah. Ilmu pertama yang wajib dan yang dituntut itu, adalah ilmu tauhid atau “ilmu mengenal Allah”. Ilmu mengenal Allah ini, kan diawali dengan mengenal diri terlebih dahulu. Sebagaimana kalimah “Awalludin makrifattullah” (awal-awal beragama itu, mengenal Allah). Pertama mula beragama itu, bukan syahadzaht, sembahyang, puasa, zakat atau haji, bukan. Ilmu yang mula-mula itu, adalah mengenal Allah!. Sayangnya kebanyakkan dari kita, tidak tahu bagaimana mencari ilmu mengenal Allah!
Saya dan Para sekalian… Yang Maha Suci Hidup itu, Jelas, Allah itu Terang, Lebih Terang Dari Cahaya Matahari!.
Allah Ta’ala itu, terang dan teramat jelas. Terang dan jelasnya Allah Ta’ala itu, lebih terang dan lebih jelas dari cahaya matahari. Kenapa kita tidak melihat Allah?.
Sebab… Yang Maha Suci Hidup itu. Allah itu tidak terpandang, terlihat, tertilik dan ternampaknya Allah itu, adalah karena adanya sifat mata!.
Adanya sifat mata itulah, yang menyebabkan kita-kita tidak dapat untuk menilik atau melihat Yang Maha Suci Hidup. Memandang Allah swt. Cobalah kita buang atau hilangkan sifat mata dari diri kita, jika ingin tahu, disitu pastinya kita akan dapat melihat, menilik dan memandang Yang Maha Suci Hidup. Allah Ta’ala kita. Sifat mata dan sifat diri kita sendirilah, sebenar-benar sifat yang menghijab, mendinding dan yang menutup dari terpandang Allah Ta’ala!.
Sebab adanya sifat matalah, yang menjadikan jauhnya keberadaan bulu mata dengan bola mata. Coba kita merenung sejenak, jikalau tidak ada mata. Dengan tidak ada mata, tidak timbullah perkara jarak,bukan? Bagi yang tidak bermata, sama saja jauh atau dekat, bukan!.
Timbulnya perkara jarak jauh atau dekat itu, adalah karena adanya sifat mata kita. Karena adanya matalah, yang menyebabkan kita tahu jarak dekat atau jauh. Artinya,,, matalah sebenar-benar sifat yang menjarak, menghijab, menjauh dan sebenar-benar yang menutup pandangan kita untuk bisa melihat Yang Maha Suci Hidup Allah.
Selagi ada mata, selagi itulah kita tidak akan dapat untuk melihat Allah Ta’ala.
Karena itu,,, renungkan, jika kita tidak ada mata, barulah Allah itu dapat kita ketahui, dilihat, dikenal dan diingat dengan nyata.
Bilamana kita berkata atau mengaku perkataan “ada aku”, itu akan membawa pengertian “tidak ada Allah”. Adanya Allah itu, setelah tidak adanya diri kita!.
Selagi adanya perkataan aku, maka timbullah dakwa’an aku gagah, aku besar dan aku kaya”. Bilamana kita menyebut perkataan itu, artinya kita menafikan kekuatan Allah, menafi kebesaran Alah dan menafikan kekayaan Allah.
Bilamana kita gagah, bermakna Allah itu bersifat lemah dan bilamana kita kaya, berarti Allah miskin!.
Setelah kita lemah, barulah Allah itu gagah, bilaman kita kecil, barulah Allah itu besar. Bilamana kita tidak ada, barulah Allah itu benar-benar ada!.
Dengan Adanya Istilah Atau Perkataan “Aku” Untuk menjadikan Allah itu benar-benar ada, jangan sekali-kali mengatakan perkataan “aku ada”, bilamana kita mengaku “aku ada” berarti Allah tidak ada. Bilamana kita mengaku “aku tidak ada”, barulah Allah itu, sebenar-benar bersifat dengan sifatnya yang ada .
Bilamana kita mengaku kita miskin, barulah Allah itu benar-benar bersifat dengan sifat kaya-Nya. Bilamana kita mengaku aku lemah, barulah Allah itu benar-benar bersifat dengan sifat gagah-Nya.
Ingat… bahwa ini adalah bahasa seni makrifat’ Kenali itu, apahami itu, cernalah itu, jangan di telan mentah-mentah, karena diatas itu, adalah bahasa yang bernilai tinggi dan dalam lingkaran Wahyu Panca Gha’ib. Ingat Itu…!!!
Para saudara dan Para sekalian… saya akan menggunakan ulang, bahasa seni Hidup dalam lingkaan Ilmu Ketuhanan. Maka, perhatikan dengan paham maksudnya.
Ingat itu, artinya Belum Ingat!” Ingat itu sesungguhnya tidak ingat”. Tahu itu sesungguhnya tidak tahu”. “Tidak ingat itulah sebenar-benar ingat dan tidak tahu itulah sebenar tahu”. Untuk bisa menggunakan seninya bahasa Hidup dalam lingkaan Ilmu Ketuhanan, tentunya kita harus sudah kenal Hidup dan mengikuti Sabdanya Hidup, untuk bisa mengenal dan mengikuti Sabdanya Hidup, saudara harus lebih mumpuni saudara harus lebih mahir di dalam laku. Jika tidak, maka tak Kenal itu dan tak Paham itu.
Sebagai gambaran, saya ingin mengajak saudara, supaya merenung sejenak, semasa kita pertama kali bekerja, atau semasa pertama kali kita berpindah dari kampung ke kota, tempat dimana kita bekerja/tugas.
Dari rumah untuk pergi kerja, tentunya kita akan bertanya arah jalan, bertanya nama-nama jalan, bertanya berapa banyak menempuh lampu isyarat, bertanya apakah ada jalan yang kena belok kiri atau kanan dan sebagainya.
Lama kelamaan, bilamana sudah biasa, kita tidak lagi perlu ingat tentang tanda-tanda jalan atau tidak lagi ingat akan lampu isyarat dan tidak lagi perlu ingat nama-nama jalan. Tahu-tahu saja, kita sudah sampai ditempat kerja. Bukan begitu…?!
Kita bisa sampai ke tempat kerja dari rumah, atau dari tempat kerja ke rumah, tanpa ingat jalan, tanpa ingat lampu isyarat ada berapa, tanpa ingat belok kiri atau kanan dan tanpa ingat nama-nama jalan lagi. Tau-tau kita sudah sampai dengan selamat!.
Didalam Laku Spiritual Hakikat Hidup. “Tidak ingat, itulah tandanya ingat”. Dari rumah dari rumah ke tempat kerja itulah gambarannya, tanpa lagi perlu mengira-gira nama jalan atau lorong mana. Itulah tanda ingat. Tanda ingat itu, adalah tidak ingat! dan tanda tidak ingat, itulah sebenar-benar ingat!.
Untuk lebih jelasnya lagi. Saya ingin bertanya kepada saudara sekalian. Sewaktu kita menyuap nasi kemulut, apakah kita ingat kepada tangan?. He he he . . . Mantap. Sudah paham kan, maksudnya…?!
Saya percaya saudara tidak ingat kepada tangan, soal ada atau tidaknya tangan kita itu, kita sendiri tidak tahu dan tidak ingat!. Tahu-tahu tangan menyuap nasi kemulut tanpa perlu ingat atau tanpa perlu disuruh, itulah tanda sebenar-benar ingat.
Tak perlu kita menyuruh tangan menyuap nasi kemulut, tahu-tahu nasi masuk kemulut!. Takala perut kita lapar… He he he . . . Mantap.
Ingat kepada Yang Maha Suci Hidup Allah itu, harusnya begitu, seharusnya seperti itu. Jika belum begitu dan seperti itu, tidak usah banyak cerita. Tapi bila sudah begitu dan seperti itu, silahkan… karena itu adalah haq Hidupmu atas Yang Maha Suci Hidup-mu.
Hendaknya kita sampai kepada tahap tidak ingat!. Kita dikehendaki tidak ingat lagi kepada keberadaan diri kita. Jika tujuan kita, adalah TITIK “AKU” “ALLAH” “RASA” “HIDUP”.
Kita dikehendaki tidak perlu lagi ingat kepada adanya diri. Sekiranya kita masih dalam keadaan berkira-kira untuk membuang diri, berkira-kira untuk menfanakan diri dan masih berkira-kira untuk mebinasakan diri, itu tandanya kita itu belum sempurna mengenal diri dan teramat jauh dari ingat kepada Allah Taala. Itu pada tahap atau peringkat masih dalam perkiraan, insya Allah, masih dalam keadaan berkira-kira mau ingat. Mau ingat itu, artinya belum ingat, mau ingat itu, artinya baru mau ingat, baru mau ingat itu, bermakna belum ingat.
Ingat kepada Allah itu, hendaklah sampai kepada tahap itu, lingkaan Ilmu Ketuhanan, harus sampai ke ranah/dimensi tersebut, tidak ada apa-apa lagi yang harus diingat. Ingat kepada Yang Maha Suci Hidup Allah itu, jangan sampai ada dalil, hadist bahkan firman. Ingat kepada Yang Maha Suci Hidup Allah itu, jangan sampai ada dikeranakan dengan suatu karena. Untuk ingat kepada Yang Maha Suci Hidup Allah itu, jangan sampai disandarkan kepada suatu penyandar. Ingat kepada Yang Maha Suci Hidup Allah itu, tidak ada sebab dengan suatu sebab. Yang Maha Suci Hidup Allah itu, adalah Yang Maha Suci Hidup Allah, Yang Maha Suci Hidup Allah itu, adalah Yang Maha Suci Hidup Allah dan Yang Maha Suci Hidup Allah itu, adalah Rasa/Suci/Hidup. HIDUP. SUCI. RASA. RASA. SUCI. HIDUP.
Mengenal Yang Maha Suci Hidup Allah Itu, Sehingga Tidak Lagi Perlu Adanya Dalil!
Mengenal Yang Maha Suci Hidup Allah itu, hendaklah sampai kepada tahap tidak perlu lagi kepada Hadist!
Mengenal Yang Maha Suci Hidup Allah itu, hendaklah sampai kepada tahap tidak perlu lagi kepada Firman!
Tidak perlu kepada saksi atau penyaksian . Kiranya masih perlu dalil atau hadist atau firman atau saksi dan penyaksian, berarti belum benar-benar mengenal Yang Maha Suci Hidup Allah. berarti belum benar-benar mengetahui Yang Maha Suci Hidup Allah. berarti belum benar-benar memahami Yang Maha Suci Hidup Allah. berarti belum benar-benar ingat, tau, melihat, memandang Yang Maha Suci Hidup Allah.
Untuk mengenal atau untuk ingat kepada kedua Ibu dan ayah kita, apakah perlu lagi kepada saksi atau dalil atau hadist bahkan firman?.
Begitu juga dengan mengenal dan mengingat Yang Maha Suci Hidup Allah. Orang yang benar-benar mengenal dan mengingat Yang Maha Suci Hidup Allah itu, adalah orang yang tidak lagi perlu kepada dalil, hadist, firman dan bla… bla… bla… konta bendera apapun!. Karena semuanya itu, sudah hapal diluar kepala, jadi, tidak perlu lagi di ingat-ingat. Bukan begitu saudaraku…?! Yang Maha Suci Hidup Allah itu, adalah Yang Maha Suci Hidup Allah. TITIK.
Saya ulangi sekali lagi. Kenali dan Pahami lagi, untuk ingat kepada Yang Maha Suci Hidup Allah itu, sekiranya masih ada saksi, bersaksi dan masih ada yang menyaksi, apa lagi butuh dan perlu dalil, hadist, firman, berati itu adalah peringkat mereka yang masih berkira-kira untuk ingat. Berkira-kira untuk ingat kepada Allah itu, adalah tanda tidak ingat dan belum ingat!.
Masih dalam perkiraan mau ingat. Perkataan mau ingat itu, adalah tandanya belum ingat dan tandanya tidak ingat. Sebenar-benar ingat kepada Yang Maha Suci Hidup Allah itu, setelah tidak lagi ingat kepada makhluk apapun. Ingat kepada Yang Maha Suci Hidup Allah itu, setelah tidak lagi ingat kepada perkiraan, tidak lagi ingat kepada sangka-sangka dan setelah tidak ingat lagi kepada dalil itu dan dalil ini, hadist itu dan hadist ini, firman itu dan firman ini.
Inilah… Rahasia-Besarnya. Yang di rahasiakan oleh Para Ahli. Para Guru atau Pembimbing. Dari semua santri/murid-nya, yang masih cemen-cemen, masih mentah, masih suka langsung leb, tidak mau mencerna terlebih duhulu, kecuali kepada para santri/murid yang sudah dewasa. Karena jika belum, akan menyangka bahwasanya itu, adalah tidak masuk akal atau tidak boleh diterima akal!. Bahkan bisa jadi, dituduh dan dikira sesat/murtad/kafir dll.
Tapi saya siap di katakan itu semua. Saya tidak peduli, karena itulah kebenarnya yang sebenar-benar-nya benar yang saya dapatkan, saya temui. Karena saya tau, jaman sekarang adalah jaman cerdas, terbukti dari ada banyaknya pesanten dan sekolahan serta kampus, artinya, sudah tidak ada lagi yang bodoh. Pasti pada bisa mikir dan berpikir. Tapi, sebelum mengatakan itu kepada saya. Tolong baca ulang artikel pernyata’an saya diatas, semuanya dengan sadar dan baik serta seksama hingga selesai. He he he . . . Mantap.
Para saudara sekalian… Kenali dan pahamilah apa yang sudah saya jabarkan diatas itu, itu adalah Bahasa seni Hidup dalam lingkaran Wahyu Panca Gha’ib, penuh sarat dengan ilmu yang tersirat, penuh makna, penuh pengertian dan penuh terjemahan, adalah wejangan yang sebenar-sebenar-nya wejangan.
Masih ingatkah kita dengan sejarah Wali sembilan? Yang pernah menghebohkan tanah jawa dwipa ini… yang sudah saya jelaskan diataslah itulah, Seni makrifat yang membawa ramai anak muridnya Syekh Siti Jenar, sedangkan Sekh Siti Jenar nya sendiri, duduk dalam keadan asyik. Asyik dengan Allah, setelah tidak lagi asyik kepada keberadaan diri-nya.
Yang sudah saya jelaskan diataslah itulah, yang membuat 9 wali menghujat Syekh Siti Jenar. Karena Syekh Siti Jenar mengajarkan wejangan itu secara masal kepada setiap Santrinya tanpa peduli latar belakan dan status sikonnya. Sebab 9 wali menganggap, bahwa ini adalah ilmu khusus, ilmu tingkat tertinggi yang tidak bisa di edarkan dengan asal-asalan saja, kepada setap orang. Harus hanya orang-orang tertentu saja yang boleh mempelajarinya.
Para saudara saya sekalian… Mengenal Yang Maha Suci Hidup Allah Itu, Akan Tercapai Setelah Tidak Adanya Diri!
Mari kita sama-sama melihat ungkapan bahasa Seni Hidup yang saya peroleh di dalam lingkaan Ilmu Ketuhanan.
Kenali melalui katanya, selagi kita masih mengakui “adanya diri”, karena selagi itulah sifat “adanya Allah itu” tidak akan dapat kita lihat. Bilamana kita mengadakan sifat adanya diri, berarti kita telah menafikan sifat adanya Yang Maha Suci Hidup Allah.
Kita tidak bisa untuk mengadakan (mewujudkan) atau menggabungkan serentak antara kedua-dua sifat makhluk dengan sifat Allah!. Sifat ada atau sifat wujud itu, adalah sifat hanya bagi Allah. Sifat bagi makhluk itu, adalah tidak ada (tidak wujud).
Sekiranya kita itu bersifat ada atau kita itu bersifat wujud, berarti kita telah mengadakan dua sifat wujud (dua sifat ada). Berarti kita telah menduakan sifat Yang Maha Suci Hidup Allah, yaitu, satunya wujud bagi Allah dan satu lagi wujud bagi diri makhluk, maknanya disini, kita telah mengadakan dua sifat wujud. Sedangkan sifat wujud itu, hanya hak bagi Yang Maha Suci Hidup Allah dan bukannya hak bagi makhluk. Bagi yang menduakan sifat Yang Maha Suci Hidup Allah, hukumnya adalah syirik. Syirik itu, adalah dosa besar yang tidak boleh diampun Yang Maha Suci Hidup Allah. Untuk itu, jangan sekali=kali mengadakan dua sifat wujud (dua sifat ada). yang wujud dan yang bersifat ada itu, adalah hanya bagi Yang Maha Suci Hidup Allah, hanya bagi Yang Maha Suci Hidup Allah dan hanya bagi Yang Maha Suci Hidup Allah!. TITIK.
Bagi semua yang sedang belajar hal ini, harusnya tahu, yang bahwasanya sifat “ada” itu adalah hanya sifat bagi Yang Maha Suci Hidup Allah!. Sedangkan sifat bagi kita itu, adalah tidak ada!.
Bilamana kita tidak ada sifat, Terus,,, apa lagi yang hendak kita perkira-kirakan dalam soal ingat kepada Yang Maha Suci Hidup Allah!.
Setelah sekalian makhluk bersifat tidak ada, bermakna yang ada itu,
adalah hanya Yang Maha Suci Hidup Allah. Sekiranya yang ada dan yang wujud itu hanya Yang Maha Suci Hidup Allah. Lalu,,, buat apa lagi ingat kepada selain Yang Maha Suci Hidup Allah!.
Jangan Bandingkan “Ada Yang Maha Suci Hidup Allah Dengan Adanya Diri” Permasalahan yang timbul kepada kebanyakkan dari kita sekarang itu, adalah permasalahan dimana kita tidak boleh untuk membuang adanya kita!.
Kebanyakkan dari kita sekarang, susah dan payah untuk membuang sifat keakuan dan ramai, masih kuat berpegang kepada perkiraan yang sifat diri sebagai makhluk itu masih ada dan masih wujud.
Kiranya Yang Maha Suci Hidup Allah, bersifat ada dan diri kitapun juga bersifat ada, bermakna kita telah mengadakan dua sifat wujud (mengadakan dua sifat ada). Barang siapa yang mewujudkan dua wujud atau barang siapa yang mengadakan dua sifat ada, bermakna kita telah syirik dengan Yang Maha Suci Hidup Allah, kerana telah mengadakan dua sifat Yang Maha Suci Hidup Allah. Bilamana kita bersifat ada dan Yang Maha Suci Hidup Allah juga bersifat ada. Lalu,,, yang mana yang benar-benar bersifat ada?.
Ada itu sifat kita kah atau sifat Allah kah?. Setahu saya pribadi, yang bersifat ada dan yang bersifat wujud itu, adalah hanya Yang Maha Suci Hidup Allah. Sifat kita sebagai makhluk itu, adalah sifat yang berlawanan daripada sifat Yang Maha Suci Hidup Allah. Bilamana Yang Maha Suci Hidup Allah bersifat ada, kita adalah bersifat tidak ada. Bilamana tidak adanya sifat kita, barulah Yang Maha Suci Hidup Allah itu benar-benar ada dan dapat lihat, di pandang serta diingat.
Kalau kita ada dan Yang Maha Suci Hidup Allah-pun ada, itulah yang menjadikan kita lupa untuk ingat nahkan buta kepada Yang Maha Suci Hidup Allah.
Apabila lupa dan buta kepada Yang Maha Suci Hidup Allah, tentunya yang kita ingat itu adalah adanya keberadaan diri, bilamana kita ingat kepada diri dan tidak ingat kepada adanya Yang Maha Suci Hidup Allah, itulah yang dikatakan syirik (menduakan sifat Yang Maha Suci Hidup Allah, berarti, kita telah menduakan Yang Maha Suci Hidup Allah). Coba saja dipikir dengan logika, katanya sekarang jamannya jaman logika, bukan jaman tahayul. Itu tadi logikanya. Jadi, silahkan dipikir, jangan di khayal atau di bayangkan ya… karena Khayal dan bayang membayangkan itulah, tahayul yang sebenarnya. He he he . . . Mantap.
Itulah yang dikatakan syirik. Dosa syirik itu, adalah dosa yang tidak akan dapat diampuni oleh Yang Maha Suci Hidup Allah Ta’ala.Untuk mengelak dari dosa syirik dan untuk menjadikan diri mengenal diri, marilah kita sama-sama belajar, saya akan mengajak Para saudara menghayati bahasa seni berupa kata-kata dari lidah yang Hidup di dalam lingkaan Ilmu Ketuhanan. Maka… Kenalilah. Pahamilah, yang saya tulisankan melalui ungkapan kata dalam bentuk tulisan ini.
Mari kita mengenal Yang Maha Suci Hidup Allah dan mengenal diri melalui kaedah lima, berikut ini.
Menurut saya pribadi, sesungguhnya. Ilmu Makrifat Itu, Adalah Ilmu Yang Paling Rendah Dan Mudah!
Ilmu mengenal Yang Maha Suci Hidup Allah itu, sesungguhnya adalah suatu ilmu yang paling mudah, paling senang, paling ringan, paling lembut, paling halus dan paling tipis. Ringan, halus dan nipisnya ilmu mengenal Yang Maha Suci Hidup Allah itu, seumpama ringannya kita menganggkat sebilah pisau cukur. Ringannya menganggkat sebilah pisau cukur itu, tidak seumpama beratnya menganggap segoni/sekarung beras.
Biarpun pisau cukur itu tipis dan ringan, hendaklah ia dianggkat dengan cermat, berhati-hati dan penuh lemah lembut. Karena jika tidak, akan melukai jari-jari kita. Menganggkat pisau cukur itu, tidak sebagaimana mengangkat sekarung beras, yang boleh diambil dengan kasar dan dicampakan dengan kasar pula.
Ringan dan tipisnya ilmu mengenal Yang Maha Suci Hidup Allah (makrifat) itu, terlebih ringan dan terlebih tipis dari pisau cukur. Oleh karena itu, hendaklah dituntut dengan cermat dan berhati-hati. Jika tidak berhati-hati, ia akan melukai tangan kita sendiri!.
Dikeranakan benda yang ringan dan tipis itu mudah terluka, makanya ramai berdebat dikalangan kita, alasan sesungguhnya, adalah merasa takut dan tidak sudi memilikinya!.
Ilmu mengenal Yang Maha Suci Hidup Allah atau ilmu makrifat itu, adalah suatu ilmu yang terang, nyata dan suatu ilmu yang paling jelas, dibandingkan Semua ilmu-ilmu yang ada di dunia ini. Bagaimana tidak, mengenal Yang Maha Suci Hidup Allah. Tidak harus bertapa, tirakat, wirid, puasa, ritual tumpeng, kemenyan, minyak apel jin atau apa itu, aple hantu kali… He he he . . . Mantap. Cukup duduk bersila, Diam mencari Rasa enak. Setelah berhasil mendapatkan Rasa Enak. Lalu nikmati sambil mencari hakikatnya, di temukan atau tidak ditemukan, jika capek, istirahatlah, dengan cara santai lagi, sebagai penutup akhirnya. Gampang kan? Mudah kan? Ringan kan?
Para saudara saya sekalian… Yang Maha Suci Hidup Allah itu terang, Yang Maha Suci Hidup Allah itu nyata dan Yang Maha Suci Hidup Allah itu jelas, lebih terang, lebih nyata dan lebih jelas daripada cahaya matahari. Terangnya cahaya matahari, itu lebih terang lagi Yang Maha Suci Hidup Allah. jelasnya cahaya matahari, itu lebih jelas lagi Yang Maha Suci Hidup!.
Kenapa tidak kita melihat dan memandangnya? He he he . . . Mantap.
Saudara-Saudariku dan para sekalian, yang dirahmati Allah Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu sekalian, untuk dapat merasakan Hidup, saya ingin Anda sekalian, berhenti seketika dari membaca artikel saya ini sejenak, dan hendaklah memegang atau meraba bulu mata Anda.
Sesudah meraba bulu mata, saya ajukan satu pertanyaan. Dengan pamrih, agar saudara dapat menjawabnya dengan jujur.
Pertanyaan saya adalah; apakah kedudukkan bola mata dengan bulu mata itu jauh?.
Kiranya jawaban saudara saya, pasti menjawab dekat, bukan?
Itulah tandanya Yang Maha Suci Hidup Allah itu, lebih hampir dan lebih dekat dari bulu mata kita sendiri.
Dan saya tidak akan menyuruh saudara, memegang bola mata, nanti sakit, cukuplah dengan kiasan memegang bulu mata saja. Namun sesungguhnya Yang Maha Suci Hidup Allah itu, lebih hampir daripada bola mata putih dengan mata hitam. Yang Maha Suci Hidup Allah itu, hampir, hampirnya Yang Maha Suci Hidup Allah itu, lebih hampir dari urat leher. Kenapa tidak kita lihat, kenapa tidak kita pandang dan kenapa tidak kita tilik?.
Diantara sebab tidak bisa ditilik, dilihat atau dipandangnya Yang Maha Suci Hidup Allah itu, adalah karena Yang Maha Suci Hidup Allah itu, terlampau hampir dan teramat dekat. Dikarenakan terlampau hampir dan terlampau dekatnya Yang Maha Suci Hidup Allah itu, sehingga kita “terlepas pandang” .
Memandangkan ilmu mengenal Yang Maha Suci Hidup Allah itu, senang, ringkas, mudah, ringan, nyata, terang, halus dan jelas, tapi kenapa kita tidak mengenal Yang Maha Suci Hidup Allah?.
yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Pamrih saya berharap POSTINGAN SAYA KALI INI. Dapat Bermanfaat untuk semua saudara sekalian tanpa terkecuali yang belum mengetahui ini dan Bisa Menggugah Rasa Hidup nya siapapun yang membacanya.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar